Wajah Populisme

 CERITA, Custommer, Partner, Pernak pernik, Sahabat
banner 468x60

Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2016 lalu menjadi momentum kuat kemunculan gerakan populisme. Populisme kerakyatan yang memunculkan Jokowi (Joko Widodo) menjadi Presiden ke 7 dan Populisme Islam yang mampu mengeser Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dari kursi petahana pada Pilkada lalu.

Kata kunci dari populisme adalah “kesenjangan”. Zuccotti Park yang berada di Distrik Keuangan Wall Street New York City adalah saksi tercetusnya gerakan populisme di Amerika pada tahun 2011. Adalah Adbustes, seorang aktivis asal Canada yang menjadi motor gerakan tersebut. Gerakan itu sebagai ekspresi atas ketidak setaraan ekonomi dan sosial, pengangguran tinggi, dan korupsi, di Amerika, yang kemudian dikenal dengan gerakan Occupy Wall Street (OWS). We are the 99% menjadi slogan yang mengemuka pada waktu itu. Slogan tersebut menjadi simbol protes atas ketidak setaraan pendapatan di Amerika Serikat (AS) yang dikuasai hanya oleh 1% orang kaya di AS. Puncak dari kemenangan gerakan populisme di Amerika sendiri adalah terpilih Donald Trump sebagai presiden Amerika.

Eropa pun tidak luput dari sasaran gerakan populisme. Keluarnya UK (United Kingdom) dari perserikatan negara-negara Eropa (United Europe) yang dikenal sebagai British Exit (Brexit) merupakan puncak populernya gerakan populisme. Rasa ketidak-adilan, dan derita ekonomi akibat beban yang harus ditangung oleh masyarakat inggris sebagai konsekwensi perjanjian UE membuat beban ekonomi negara tersebut semakin berat, ditambah lagi meledaknya jumlah imigran yang kisaran 8% dari total penduduk Inggris menjadikan kesenjangan, dan sempitnya lapangan pekerjaan menjadi pemantik munculnya gerakan populisme di UK. Dinamika dan Jalan panjang harus ditempuh oleh Inggris hingga tercapainya kesepakatan untuk mengadakan referendum pada tahun 2016 yang pada akhirnya inggris benar-benar keluar dari UE menjadi penanda kemenangan gerakan populisme.

Narasi populisme di Indonesia pun telah berlangsung lama. Sikap elitis penguasa, maraknya korupsi baik ditingkat pusat dan daerah, dan kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, menjadi mendorong gerakan masyarakat melakukan perlawanan. Munculnya jargon “blusukan ala Jokowi” sejak di solo kemudian berlanjut di Jakarta, dan kemudian berhasil mengantarkan Jokowi menjadi Presiden RI ke 7 adalah bagian dari upaya gerakan yang bisa disebut populisme. Populisme ala Jokowi lebih dikenal sebagai populisme kerakyatan. Mengapa demikian? Jokowi yang dilahirkan dari tengah-tengah kerumunan rakyat, dianggap satu-satu nya figure yang mampu memberikan perubahan dan keberpihakan kepada rakyat. Sikap egaliter, blusukan, dan dekat dengan rakyat menjadi hal yang tidak bisa dibantah oleh pihak manapun juga. Bahkan politisi di Jakarta pun tidak mampu membendung popularitas Jokowi.

Kerinduan rakyat atas keberpihakan, ketegasan, pemerintahan yang bersih, adalah bukti dari munculnya narasi populisme kerakyatan itu. Sikap perlawanan rakyat terhadap elitisme penguasa tidak ditunjukkan dengan gerakan perlawanan melalui demonstrasi sebagaimana gerakan reformasi pada tahun 1998. Rakyat lebih memilih jalur konstitusional untuk merebut kekuasaan. Penanda yang paling nyata adalah munculnya berbagai gerakan relawan yang berafiliasi terhadap dukungan kemenangan Jokowi untuk merebut kekuasaan. PDIP sebagai partai politik tempat Jokowi bernaung tidak mampu membendung aspirasi masyarakat untuk mengusung Jokowi menjadi Capres, meski posisi Jokowi sendiri bukanlah jajaran elit di PDIP kala itu. Kekuatan populisme kerakyatan ini pun kemudian merebak seantero pelosok Indonesia, kemunculan relawan-relawan politik yang mengusung kepala daerah menjadi fenomena baru dalam percaturan politik nasional, hingga keberadaannya sempat mengancam eksistensi partai politik.

Kemunculan gerakan populisme jilid kedua ditandai dengan aksi massa gerakan 411 dan 212. Gerakan 411 dan 212 muncul sebagai sikap protes kepada petahana Ahok yang pada waktu itu dianggap melakukan penistaan agama. Gelombang protes dan aksi tuntutan untuk menghukum Ahok sebagai penista agama, dan pada ujungnya lengsernya Ahok dari kursi Petahana.

Momentum munculnya populisme islam ini tidak bisa dianggap remeh. Dalam waktu yang hampir bersamaan, wabah populisme senyatanya sudah menjadi isu global meski dalam konteks dan wajah yang berbeda. Kendati gerakan populisme islam ini kerap “dituduh sikap intoleran” namun karena sifat gerakan ini membawa nama agama dan keyakinan, tidak sedikit masyarakat yang awalnya bersikap netral juga mulai terpengaruh dan tidak sedikit menjadi militan.

Sikap pemerintah (Jokowi) yang dianggap tidak pro rakyat dan cenderung membela kepentingan asing (investor) dan aseng (cina-red), kesenjangan, penganguran, liberalisasi, dan berbagai merebaknya kasus korupsi tetap menjadi bagian pemantik berkembangnya gerakan populisme islam ini. Pemerintahan di bawah kendali Presiden Jokowi dianggap tidak mampu menepis kesenjangan ekonomi, dan lapangan kerja, ditambah lagi, selama periode Jokowi berkuasa kasus korupsi semakin menjamur, hal itu ditandai dengan banyaknya kepala daerah yang terjerat kasus OTT (operasi tangkap tangan) dan politisi senayan yang terjerat kasus korupsi dan berbagai proyek.

Sikap apatis sebagian masyarakat terutama pro populisme islam kemudian mendorong sebuah gerakan #2019GantiPresiden. Gerakan ini memang secara kasat mata tidak murni muncul dari aspirasi sebagian besar masyarakat, namun karena masifnya gerakan, dan didorong oleh kuatnya pertarungan opini, dan propaganda yang dimainkan oleh kedua kubu di media sosial mampu mempengaruhi opini publik. Berbagai hasil survey yang  memposisikan popularitas Jokowi sebagai petahana yang tidak mampu menembus angka 70% tentu patut menjadi perhatian serius.

Reuni 212 yang akan digelar pada tanggal 2 Desember 2018 mendatang, akan menjadi diskursus penting bagi kita untuk menakar kekuatan gerakan populisme ini. Kita perlu mencermati agenda-agenda yang akan diusung dalam pertemuan yang bertajuk “reuni 212. Masihkah gerakan populisme islam, ini menempuh jalurnya yang benar sebagai sebuah agenda perubahan dan mengusung aspirasi rakyat sebagaimana maksud dan tujuan dari kemunculan gerakan populisme, ataukah sudah berubah wajah menjadi simpatisan politik?

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

As you found this post useful...

Follow us on social media!

Mari Berbagi :

Kalimat yang berkaitan:

Kalimat terBaru

Tuliskan Pendapatmu...!!!